Senin, 19 Mei 2014

Tugas Cerpen : Santri Jatuh Cinta


Nana dan Dinda adalah santri di sebuah pesantren di jawa timur. Mereka bersahabat sejak pertama kali masuk di pesantren itu. Mereka berasal dari daerah yang berbeda, Nana dari Bekasi dan Dinda dari Sumatera. Suatu hari ketika hendak ke masjid, Nana dan dinda berpapasan dengan seorang pemuda tampan di depan pesantren.
“Assalamu’alaikum?” Kata pemuda itu
“Wa’alaikumsalam!” Jawab Nana dan Dinda
“apa kalian santri di pesantren ini?” Tanya pemuda itu
“iya! Mmm….afwan kami harus segera ke masjid! Permisi! Assalamu’alaikum!” Jawab Nana
“iya, silakan! Wa’alaikumsalam!” Kata pemuda itu lagi
“Dinda, siapakah pemuda tadi?” Tanya Nana
“aku juga tidak tahu Nana! Barangkali hanya orang yang mau shalat subuh di masjid kita!” Jawab Dinda
“dia bukan santri disini?” Tanya Nana lagi
“sepertinya bukan! Sudah ayo kita masuk sudah adzan!” Kata Dinda
Merekapun masuk ke masjid. Ketika telah selesai shalat subuh mereka semua bersiap-siap mandi. Karena hari itu adalah hari minggu maka mereka membersihkan taman. Ketika sedang merapikan tanaman bunga mawar, seseorang menghampiri Dinda dan Nana.
“Assalamu’alaikum!” Katanya
Nana dan Dinda terkejut melihatnya. ”pemuda itu!” Kata Dinda dalam hati
“Wa’alaikumsalam!” Jawab Nana sambil menyenggol Dinda yang masih diam.
“eh…e…. Wa’alaikum salam!” Jawab Dinda
“ada apa?” Tanya Nana
“aku hanya ingin berkenalan! Boleh kah?” Tanya pemuda itu
“aku Nana dan ini teman ku Dinda!” Jawab Nana
“mmm…. Apakah antum santri pesantren ini?” Tanya Nana lagi
“ya… namaku Yusuf!” Jawab pemuda itu
“baiklah kami permisi!” Kata Dinda
Nana dan Dinda pun akhirnya pergi meninggalkan Yusuf.
“Nana, apakah maksud pemuda itu? Mengapa dia begitu berani menghampiri kita? Tidakkah dia akan di marahi bu Fatimah jika dia ketahuan memasuki wilayah santri putri?” Tanya Dinda
“aku juga tak tahu Dinda, sepertinya dia santri baru disini dan belum tahu dengan pertaturan itu!” Jawab Nana
“iya,,, tapi, bukankah sejak awal kita semua di beritahu bahwa santri putra dilarang memasuki wilayah santri putri begitu juga sebaliknya. Jika ada yang melanggar maka akan dikenakan sanksi. Iya kan?” Kata Dinda lagi.
“iya Dinda kamu benar!”
“lagi pula tidak pernah ku lihat ada santri putra selancang dia!” Kata Dinda
“ah…sudahlah! Semoga dia tidak mengulanginya!” Kata Dinda lagi
Lalu Nana dan Dinda segera membersihkan kamar mereka.
Seminggu kemudian….. Di asrama santri putra,,,,
“Firdaus,,, kenalkah antum dengan santri putri yang bernama Dinda?” Tanya Yusuf
“wah,,, siapa yang tidak kenal Dinda, santri putri dari Aceh yang pintar dan cantik, yang selalu mewakili pesantren kita kalau ada lomba-lomba. Suaranya begitu merdu saat ia mengaji.” Jawab Firdaus
 “tapi…. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Dinda?” Tanya Firdaus
“eh… seminggu yang lalu ketika hendak shalat subuh aku bertemu Dinda bersama temannya. Kemudian ketika kita sedang membersihkan taman, aku mengajaknya berkenalan!” Cerita yusuf
“kamu memasuki wilayah santri putri? Astaghfirullah Yusuf, jika ketahuan kamu bisa kena hukuman? Dulu ada yang ketahuan menemui santri putri dan dia di beri hukuman tidak boleh keluar dari asrama selama sebulan. Kamu mau seperti itu?”
“sebulan? Aku tak tahu Daus sungguh. Jika aku tahu mungkin aku tidak selancang itu!”
“lalu bagaimana tanggapan Dinda?”
“Dinda hanya diam, dan yang menjawab semua pertanyaanku adalah temannya!”
“Nana?”
“ya… Nana!”
“mereka memang bersahabat sejak 2 tahun yang lalu, ketika mereka sama-sama baru masuk di pesantren ini!”
“yang harus kamu ketahui. Dinda sangat menjaga pergaulannya dengan santri putra. Jika tidak terpaksa, Dinda tidak akan mau mengeluarkan suaranya. Seperti saat kamu mengajaknya berkenalan. Begitulah Dinda.” Kata firdaus menjelaskan
“oh… pantas saja! Mereka segera pergi setelah menyebutkan namanya!”
“Yusuf aku ingatkan sama kamu, jangan sekali-sekali kamu memasuki wilayah santri putri lagi jika kamu tidak ingin ada masalah. Dengar?” Kata firdaus menegaskan
“baiklah! Maafkan aku!”
“sudah. Ayo kita turun teman-teman sudah menunggu di meja makan!”
“ayo!”
Mereka segera turun untuk makan siang bersama.
Seminggu setelah itu,,, sebuah mobil berplat jakarta memasuki wilayah pesantren. Seorang ibu, seorang bapak, dan seorang gadis cantik berbusana muslim keluar dari mobil itu.
“wah nampaknya mereka akan memasukkan putri cantiknya ke pesantren ini. Tapi… mengapa mereka berjalan menuju ruang pak habib, bukankah jika ingin mendaftar mereka harus menemui pak salam dan bu fatimah?” Tanya seorang santri.
“mungkin saja mereka mau menjemput santri putra!” Jawab yang lain
“assalamu’alaikum Pak Habib?” Kata sang bapak
“oh… Pak Zul mari-mari silakan masuk!”
“oh… bersama ibu dan putrinya juga! Ayo…ayo masuk jangan malu-malu!”
Mereka masuk ke ruangan pak habib dan mengutarakan maksud kedatangannya kemari.
“ada apa ini?” Tanya Pak Habib
“begini Pak Habib, besok ibu saya yang dari Aceh mau datang dan dia pengin sekali bertemu dengan kedua cucunya, bolehkan saya membawa Yusuf pulang untuk 2 atau 3 hari? Masalahnya jika saya harus membawa ibu saya kesini kasihan pak, beliau sudah sangat berumur!” Jelas Pak Zul
“oh… begitu! Baiklah jika memang begitu. Kebetulan ini hari jum’at. Tetapi saya minta hari minggu Yusuf sudah kembali ya pak?”
“iya iya,,, baiklah. Hari minggu kami akan mengantarkan Yusuf lagi!”
“mari!”
Lalu mereka keluar dari ruangan Pak Habib. Dan Pak Habib memanggil Yusuf.
“mama,,,papa,,,,!” Sapa Yusuf
“apa kabar kamu nak?”
“alhamdulillah ma,pa, Yusuf baik-baik disini!”
“bang,,, aku ga di peluk? Huft!” Kata adiknya
“hha…. Ada kamu rupanya jelek!,… hhi,,,! Kangennya abang sama kamu Ra..!” Kata Yusuf
“abang kalo kangen pulang yuuuk!! Besok nenek dateng tau dari Aceh!”
“O ya?? Tapi……” Yusuf menatap ayah dan ibunya serta adiknya
Sembari tersenyum ibunya berkata
“Yusuf… mama sama papa udah ngomong sama Pak Habib dan kamu di izinkan pulang.!”
“bener pa??” Kata Yusuf tak percaya
“iya abang…!” Jawab adiknya…
“asyiiikkk! Makasih ya pak!” Kata Yusuf sambil mencium punggung tangan Pak Habib
Lalu mereka berjalan keluar dan meninggalkan pesantren itu.
Sementara itu di asrama putri, Nana dan Dinda sedang berbincang
“Dinda kenapa kamu dari tadi diam?” Tanya Nana
“dia pulang Na? Bersama orang tuanya dan seorang bidadari surga!”
“dia? Dia siapa?” Tanya Nana lagi
“dia……..Yusuf!”
“Dinda?? Kamu……!”
“waktu itu aku ga sengaja mendengar dia mengaji,,, merduuuuu sekali…. Suaranya yang merdu sepadan dengan wajah tampannya dan akhlaknya….! Makhluk allah yang begitu sempurna!” Puji Dinda
“Dinda??”
“aku…… menyukainya Na! Mungkin awalnya aku sempat marah ketika dia dengan lancang memasuki wilayah putri. Tapi,,, jujur di balik kemarahan ku, aku mengagumi sosoknya. Yusuf,,, parasnya memang tampan sama seperti namanya!”
“Dinda kamu jatuh cinta Dinda!”
“entahlah Na,,,,, dia ikhwan pertama yang membuatku begini…!”
“aku sedih Na… siapa bidadari surga yang ada disampingnya tadi? Begitu cantik. Dengan balutan busana pink, pahatan wajah yang sempurna dan senyum yang menawan! Mungkinkah aku bisa bertemu dengannya lagi Na?”
“Dinda….. Kenapa kamu nda’ pernah bilang sama aku?”
“aku malu Na kalau harus cerita.”
“kenapa kamu malu?”
“Na…aku nda’ pernah merasakan ini sebelumnya, ini yang pertama Na. Dan aku nda’ tau apa yang harus aku katakan!”
“Dinda sahabatku,, seorang akhwat yang cantik, pintar, dan dikagumi semua orang kini sedang jatuh cinta! Subhanallah. Din aku yakin dia pasti kembali!” Kata Nana sambil tersenyum
“dari mana kamu bisa seyakin itu?” Kata Dinda
“dari sini! (menunjuk dada) Feeling!” Kata Nana
“sudahlah…. Aku nda mau berharap banyak, astaghfirullah aku nda’ mau zina hati Na! Aku mau tidur sudah malam! Ayo..!”
Akhirnya mereka tidur.
3 hari kemudian,, Yusuf diantar kembali oleh orang tuanya. Tanpa sengaja saat itu Dinda dan Nana lewat. Yusuf terpana dengan kecantikan Dinda.
“bang,,, cepet pulang lagi ya? Ira ga ada temennya nih..!”
Yusuf yang terkejut segera menjawab
“iya… jelek…!” Kata Yusuf
“ma pa, Yusuf masuk dulu ya??” Kata Yusuf sambil mencium tangan kedua orang tuanya
“baik-baik ya nak?”
“iya ma?”
“Pak Habib terima kasih kami titip Yusuf!” Kata Pak Zul
“iya sama-sama bu pak!”
“baiklah kami permisi, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam!”
Merekapun pergi. Ketika di kamarnya Yusuf langsung memeluk Firdaus,
“Daus… Bidadari ku!”
“Dinda?”
“iya… dia lewat dengan senyum yang begitu indah!”
“ckckck… Jangan berharap banyak ya? Nanti kamu kecewa!”
“akan ku lamar dia suatu hari nanti!”
“iya-iya..!”
2 hari kemudian……
“Nana,, sini!” Panggil seorang santri
“kenapa Daus?”
“habis dari mana?”
“dari depan!”
“sendiri?”
“iya!”
“temenmu mana?”
“Dinda?”
“siapa lagi?”
“ada sedang mengaji!”
 “Oh… Na,,, temenku ada yang suka sama Dinda?”
“hah? Siapa?”
“Yusuf! Tau?”
“oh…iya-iya Yusuf yang pernah mengajakku dan Dinda kenalan di wilayah kami! Yusuf yang tidak menaati peraturan! Yu…..!” Ucapan Nana terpotong oleh Firdaus
“iya-iya…. Tapi dia suka sekali sama Dinda!”
“akhwat yang kemarin??”
“oalah…. Itu adeknya dari jakarta namanya Ira..Khumaira! Cantik ya? Lha wong mas e guanteng koq!”
 “oh… aku nda’ tau masalah Dinda suka apa nda’ sama Yusuf!”
“iya sih Na aku juga nda’ yakin!”
 “kamu tau gimana Dinda kan?”
“iyo Na,,,!”
“ya sudah,,,, biarin aja… kalo jodoh nda’ kemana kan?”
 “ya sudah aku pulang dulu! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam! Salam buat Dinda yoo…!”
“ok!”
Ketika sampai di asrama, Nana langsung menceritakan apa yang dia dengar.
“Dinda…. Itu yang di katakan Firdaus!”
“sudahlah Na…! Bidadari itu….!”
“ya ampun itu adeknya dari jakarta!”
“adeknya? Subhanallah cantik!”
“gimana adeknya nda’ cantik, wong kakaknya aja bisa bikin kamu jatuh hati!”
Dinda tersipu malu. Beberapa hari Setelah itu Nana memberitahukan kepada Firdaus bahwa Dinda menyukai Yusuf.
“Alhamdulillah! Gayung bersambut Na!”
“iyo,,,!”
“yo weis tak masuk dulu..! Assalamu’alaikum”
“iyo iyo! Wa’alaikum salam!”
“Yusuf….. Dinda suka sama kamu?”
“yang bener kamu?”
“iya tadi Nana bilang!”
“alhamdulillah!”
“terima kasih ya Daus!”
 Besoknya ketika shalat subuh Nana dan Dinda bertemu Yusuf dan Firdaus.
“Assalamu’alaikum” kata Yusuf dan Firdaus
“Wa’alaikumsalam!” Kata Nana dan Dinda
“Dinda?”
Dinda hanya menjawab dengan senyuman.
“kita duluan ya,,, Yusuf, Daus!” Jawab Nana
3 bulan setelah itu. Dinda dan Nana keluar dari pesantren dan meneruskan kuliah di perguruan tinggi begitu pula dengan Yusuf dan Firdaus. Setelah Yusuf menyelesaikan pendidikan dokternya, dan Dinda menyelesaikan pendidikan akuntansinya. Yusuf mengkhitbah Dinda, dan akhirnya mereka hidup bahagia, begitu pula dengan Nana dan Firdaus bersama jodohnya masing-masing.

1 komentar: